Kisah
Namaku Reni Oktaviani, seorang perempuan kelahiran 7 Oktober 2002. Anak ke empat dari empat bersaudara. Disini aku akan menceritakan tentang kehidupanku sedari aku lahir. Ya sebenarnya aku sangat ingin menceritakan semuanya , sayang nya aku manusia normal pada umum nya , yang tentu tidak ingat bagaimana dia dilahirkan, karena normalnya manusia akan memiliki ingatan sejak umur kurang lebih tiga tahun. Baiklah akan aku ceritakan sedikit banyak tentang bagaimana aku lahir. Aku lahir seperti orang pada umum nya, yaitu dari seorang ibu. Ibuku bernama Wati, ibuku adalah seorang yang sangat cantik dan baik hati sedunia. Kata Ibu aku anak yang paling mudah saat dilahirkan. Saat itu pukul lima pagi dan Bapa membawa Ibuku kebidan ,saat ibu bilang perutnya sakit. Ibu bilang padaku katanya, sekitar lima belas menit ibu sampai di bidan aku langsung lahir. Aku bangga berarti ibu tidak terlalu lama meregang nyawa demi malahirkan ku. Ya itu lah sedikit tentang kisah lahirku. Dan sekarang aku akan menceritakan pengalaman hidup yang aku lalui dan tentu yang aku ingat. Baiklah kita akan mulai. Aku adalah anak ke empat dari empat bersaudara. Dua kakak pertamaku adalah laki-laki, dan satunya perempuan. Kakak pertama ku bernama Agus Yana, yang kedua Yudi Yana. Dan kakak perempuan ku bernama Tri Kurnia Suri. Kakak laki-lakiku semua sudah menikah. Dan kakak perempuanku dia bekerja sebagai Manager Area di salah satu bank BUMN. Aku hobbi membaca, menonton kpop, memdengar musik dan browsing. Aku tinggal di Cilacap , tepatnya daerah Wanareja. Wanareja adalah sebuah desa yang terletak di daerah Cilacap barat , desaku sama seperti daerah umumnya, berekonomi sedang dan hal normal lainnya yang sama dengan daerah Cilacap pada umumnya.
Jujur walau daerahku ini tidak terlalu terkenal aku sangat suka tinggal disini, karena disinilah aku besar dan disinilah aku lahir. Dahulu aku pernah tinggal di kota Bekasi, Tapi karena orang tuaku merasa. nenek sudah tua kami kembali ke kampung halaman kami.
…
Jujur walau daerahku ini tidak terlalu terkenal aku sangat suka tinggal disini, karena disinilah aku besar dan disinilah aku lahir. Dahulu aku pernah tinggal di kota Bekasi, Tapi karena orang tuaku merasa. nenek sudah tua kami kembali ke kampung halaman kami.
…
“Mamah bilang apa? Kalo bangun jangan kesiangan. Masa baru hari pertama mau telat” kata mamah sedikit membentak. Ini memang salah ku sih, aku selalu bagun telat. Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah di SDN 02 Wanareja karena sebelumnya aku sekolah di SDN 01 Mangun Jaya, Bekasi. Aku pindah kesini pada pertengahan semester dua kelas dua setelah libur akhir semester selesai.
“Iya ini juga, mamah bukan bangunin dari tadi” balasku, karena sebenarnya aku merasa tidak ada yang membangunganku. Aku benci hari Senin selalu gini inikan hari pertama masuk sekolah masa telat. “Mamah siapa yang mau anter?” “Bapa yang mau anter, sana mandi buruan” Mamah teriak dari dapur. Aku buru-buru jalan ke kamar mandi, dan diluar aku melihat nenek ku sudah asik dengan bahan-bahan masakannya. Ya dirumah ini aku tinggal bersama Mamah, Bapa , dan Nenek dari Mamah. Nenek ku memang sudah sangat tua umurnya mungkin hampir menginjak sekitar delapan puluh lima tahun. Tapi beliau masih sehat untuk ukuran orang setua itu. Oke back to me. Aku sangat kesal pagi ini karena hari pertama masuk dan ada ancaman aku akan telat, untung bapa mau mengantarku jadi aku tidak telat. Ya sesampainya aku disekolah baruku, aku agak kaget kenapa postur tubuh mereka sangat tinggi, sedangkan tinggi badan ku mungkin hanya dibawah bahu mereka. Aku agak takut masa iya aku akan jadi orang terpendek disini. Saat itu ada salah satu dari murid yang melihat ke arahku aku menunduk kerena malu. Aku masih dihalaman depan saat itu dan aku dengan percaya dirinya meminta Bapak untuk tidak menemami aku hari pertama ini. Alhasil aku merasa malu sekarang karena aku belum mangenal siapapun disini. Terlebih ada yang memandanngi ku
sekarang, sepertinya dia kaka kelas. Dan baiklah aku mulai deg-degan rasanya kakak-kakak perempuan itu sepertinya berjalan kearahku. Semakin dekat kakak kelas itu, keringat campur hawa dingin dan panas rasanya menyelimuti aku saat ini. Aku tadinya mau lari kalau saja kakak itu tidak keburu sampai di depanku. Aku hanya menunduk saking malunya, dari hawa-hawa , yang kucium sepertinya dia akan mengajukan sebuah pertanyaan, karena mungkin wajahku asing baginya. Baiklah Sekarang aku akan bersiap untuk pertanyaannya. “Ade?” baiklah panggilannya sukses membuatku menatap ke arahnya. “Iya” Itu adalah satu-satunya kata yang mampu aku ucapkan saat ini, mengingat kondisi jantungku yang terus berpacu cepat. “Ade sedang apa?” itu pertanyaan kedua dari kakak itu. “Saya itu ka mau masuk sekolah Kak” Aku gugup sekali jujur. “Saya murid baru kak”
“ohhh” dia ber ohh, entahlah mengapa dia ber oh, padahal akku rasa dia sudah tau sejak awal kalau dia tau aku murid baru disekolah ini. “Pantesankeliatan bingung” lanjutnya.
“ Iya ka saya bingung, ga ada yang nganter juga” jawabku, lalu “Maaf, kakak boleh bantu saya?, saya belum tau dimana kelas saya” kataku , sebenarya aku agak malu dan ragu minta bantuan karena tentu kami baru saja kenal. “Kakak boleh tau ade kelas berapa?” “ Saya kelas IIB ka"
"ohh, ade kelas dua, kalau kelas dua itu jam sepuluh nanti baru masuk” kata kakak itu, aku kaget kenapa bapak gabilang. Masa iya aku harus menunggu selama tiga jam, mana aku belum kenal siapa-siapa disini.”Ade kalau mau tunggu lama, apa mau ikut upacara? Sebentar lagi upacara , kakak mau masuk dulu ya” kakak itu langsung lari begitu saja kedalam padahal aku belum menjawabnya. Yasudah berhubung aku malas berjalan kembali kerumah, akhirnya aku menunggu di salah satu warung depan sekolah. Aku membeli beberapa jajannan, setiap ada ibu-ibu yang menunggu anaknya mereka pasti mengajukan pertanyaan tidak terkecuali ibu warung itu. Saking banyaknya pertanyaan aku sampai tidak ingat, intinya banyak pertanyaan yang biasa mungkin, tapi karena aku orang baru aku agak canggung ditanya –tanya . Menghabiskan tiga jam tentu bukan waktu yang singkat. Aku menunggu sambil membaca beberapa komik yang memang sengaja aku bawa dari rumah, karena takut nanti dikelas tidak ada yang mangjakku bermain, jadi dari pada malu aku baca komik. Oke singkat cerita waktu tiga jam menunggu hampir habis. Kata ibu warung sebentar lagi kakak kelas ku akan istirahat dan aku sebentar lagi masuk. Dan tiba tiba aku melihat orang yang sepertinya aku kenal, aku berusaha ingat ingat namanya. Ya dia ketty salah satu teman kecilku. Aku langsung saja menghampirinya , walau agak sedikit malu dan ragu takut dia tidak mengenaliku, karena sudah kurang lebih tiga tahun kita tidak bertemu. Aku langsung berlari ke arahnya
“Ketty?” Aku tepuk bahunya saat dia akan masuk kedalam sekolah. Merasa ada yang menepuk dan memanggilnya dia membalikan badannya ke arahku. “Siapa?” Dia mamasang ekspresi polosnya. Ya wajar kalau dia tidak manengenali aku , seperti yang aku katakana di awal kita tidak bertemu cukup lama.” Ohh Bi Reni” Ya seperti itulah panggilan dia kepadaku, karena menurut garis keturan. Dikeluarga kami, hal itu memang masih diharuskan . Ngomong-ngomong aku senang sekali akhirnya Ketty mengenaliku. Jadi aku bisa mempunyai satu orang yang aku kenal. “Heeh,Ket”kataku kegirangan”Ketty Kita sekelaskan?” tanyaku antusias. Ketty pun menjawab dengan aggukan. Aku sangat senang saat itu, kerana berarti aku tidak akan bengong sendirian dikelas karena tidak ada yang aku kenal. Ekspresi ketty saat itu cukup membuatku senang karena sepertinya dia senang juga bertemu denagnku.
"Ketty, kelasnya dimana? " aku begitu antusias tiba tiba"ayo atuh kekelas"
"Kelasnya di sebelah sana" ketty menunjuk salah satu sudut sebelah selatan. Aku sangat senang akhirnya aku dapat masuk kelas dan tidak terus menunggu karena datang terlalu awal. Aku langsung mengikuti kemana ketty pergi, dia masuk ke dalam sekolah, aku agak deg-degan saat memasuki lapangan SD baruku. Oh iya dulu waktu aku pertama kali masuk sekolah SD N 2 Wanareja belum ada gedung yang tingkat. Barulah setelah aku menginjak kelas lima, mulai ada pembangunan gedung tingkat.
Setelah kakiku menginjak kelas, baru saat itu aku merasa sangat gugup, entahlah keringat mulai membasahi lagi. Kesal, padahal aku kira aku akan berani menghadapi orang orang baru lagi. Tapi semoga hari ini berjalan baik. Setelah aku memasuki kelas semua mata tertuju padaku. Ketty langsung mangajakku duduk di samping nya. Aku hanya diam tidak berani menatap mereka semua, tetapi aku masih bisa mendengar suara-suara berbisik bisik di belakang sana. "Eh eta apa budak anyarna? " sepetinya suara laki laki, yang artinya "eh itu apa anak barunya" disini memang mayoritas orang orang nya berbicara bahasa sunda. Walaupun kami jawa tengah yang seharusnya berbahasa jawa, aku juga tidak tahu mungkin karena kami termasuk daerah perbatasan atau entah lah.
Perasaanku sedang campur aduk sekarang, aku rasa menunggu bel masuk rasanya sangat lama, untung ada ketty disini walau dia diam saja, karena dia sedang menulis, entah lah aku juga tidak tahu dia sedang mencatat apa.
Akhirnya bel masukpun berbunyi. Aku masih agak gugup pasti nanti ada perkenalan diriku. Dan sepertinya itu hal yang benar karena saat seorang guru, yang ku ketahui dari ketty bahwa guru itu bernama ibu Tri Astuti, yaitu wali kelas kami.
"Bagai mana liburannya?" pertanyaan pembuka beliau memberikan salam. Mananggapi pertanyaan gurunya mereka langsung menjawab dengan bersamaan, tetapi sama sekali tidak kompak. Jawaban mereka banyak yang berbeda sehingga sekarang kelas baruku ini benar-benar bising. Saat satu persatu dari mereka mulai bungkam, mata guru itu tertuju ladaku. Saat itupun aku tau saat nya perkenalan diriku akan segera tiba. Ya benar saja beliau menyuruhku untuk maju. Aku isahakan sekali agar aku tetap tersenyum, akan tetapi air muka ku tak dapat membohongi seisi kelas. Aku terlihat gugup, mungkin amat sangat gugup.
"Gugup ya sayang?" ditanya seperti itu aku sebenernya agak canggung. Aku hanya menjawab pertanyaannya hanya dengan mengangguk sambil di usahkan untuk tersenyum. "Baiklah sekarang kenalkan diri kamu" lanjutnya setelah aku sampai di depan kelas. Aku berusaha mengatur napas agar senormal mungkin
"Assalamualaikum" salam pembukaku, karena aku seorang muslim. Mareka menjawab salamku dengan serempak kali ini." Nama saya Reni Oktaviani, saya murid pindahan dari SDN Mangunjaya 01, di Bekasi" lanjutku menatap seisi kelas. Mereka semua mengangguk, dan untung nya tidak ada pertanyaan lanjutan buatku, karena ibu Tri bilang kalau mau tanya nanti sewaktu istirahat. Setidaknya aku bisa bernafas lega sebentar sampai istirahat. Hari ini juga kami tidak diberi banyak tugas, karena ini hari pertama masuk. Kami hanya di beri tugas menceritakan pengalaman kami. Setelahnya, hari ini aku banyak mendapat teman baru, dulu pertama kali yang aku kenal selain Ketty, juga ada Bunga, Diki, Gilang, Dina, Novia dan aku lupa siapa saja yang dulu aku kenal pertama kalinnya. Tapi sungguh aku rasa sekolah disini bukan hal yang buruk untuk saat ini. Dan semoga kedepannya juga.
Ya seperti itulah kisah hari pertama aku masuk sekolah SD baru ku. Maaf aku tidak menceritakan awal aku masuk SD atau TK, karena sungguh itu pengalaman yang hampir sama yang dialami oleh anak lainnya. Seperti diantar orang tua saat lendaftaran, atau tidak mau di tinggal mamah karena belum kenal dengan teman-temannya.Dan disini aku hanya akan menceritakan sebagian inti kehidupanku pada tulisan ini.
Selama ini kehidupan ku normal, baik di sekolah atau dirumah. Paling hanya terjadi berbagai masalah sedikit. Contohnya saat aku dimarahi mamah karena uang yang harusnya aku tabung malah aku pakai jajan. Atau seperti bertengkar dengan Anggi, Della, atau Yuni, teman bermainku sejak kecil.
Hingga ada suatu kejadian yang banar-benar manggoncang kami, aku dan keluarga ku. Yaitu kematian Mamah ku.
Aku kelas lima saat itu. Ya Mamah ku memang sakit sejak 2 tahun lalu, Mamah sakit paru-paru. Tetapi penyakitnya sedang berangsur membaik saat ini. Kami semua tidak percaya bahwa hal ini akan terjadi sekarang. Saat itu perasaan kami, aku, bapa, dan ketiga kakak ku amat sangat hancur.
Saat itu tanggal 4 Oktober 2013, saat aku kelas lima SD, mimpi buruk bagi keluarga kami. Aku sebenarnya tidak suka menceritakannya pada siapapun. Aku juga sangat tidak suka apa bila ada yang menanyakan tentang hal ini.
"Reni, ada yang cariin kamu didepan, kamu disuruh pulang" Kata wali kelasku, bapak Rasyanto. Saat itu kami memang sedang masuk siang, karena ada pembangunan gedung baru di SD ku. Aku agak kaget mendengat tiba-tiba aku disuruh pulang. Parasaanku mendadak tidak enak karena tadi pagi sakit mamahku kambuh lagi. Mamah muntah darah tadi waktu Mamah akan solat tahajud. Jadi berbagai prasangka buruk sudah memenuhi kepalaku. Akupun bergegas keluar dan berpamitan kepada wali kelas ku. Di luar sekolah aku melihat bibiku duduk di atas motornya. Aku berlari menghampiri bibi dan langsung saja aku membanjirinya dengan banyak pertanyaan.
"Bibi ada apa? Kenapa aku dijemput "nafasku agak tersengal-sengal. Bibiku tak kunjung menjawab, dan matanyapun agak lebam. Perasaan ku semakin tak enak. Rasangan ada yang mengganjal tenggorokanku. Mataku mulai panas, jantungku berpacu begitu cepat. Aku benci suasana ini, aku benci sekali. "Bibi" kali ini teriakku cukup keras, aku tak peduli itu melanggar kesopanan, aku tak peduli walau banyak orang yang akan memandangi ku.
"Eni" dia memanggil nama panggilan sehari-hari ku. "Mamah sakit, pingin ketemu sama Eni" lanjutnya. Tidak menunggu lama aku langsung naik keatas motor nya. Bibiku masih terdiam, aku tahu dia sedang menahan tangis, aku tahu.
"Bibi ayo jalan, ayo katanya mamah mau ketemu, cepet" kataku sambil mengoncang bahunya. Bibi masih saja diam, aku sangat kesal saat itu. Kalau saja bibiku saat itu masih belum menyalakan motor dan menarik gas, sepertinya, aku sudah teriak dan marah. Ini bukan lagi masalah sepele, ini adalah tentang Mamahku, tentang orang yang melahirkan aku. Rasanya mendengar hal buruk terjadi padanya, aku sangat sedih dan gelisah.
"Bibi sebenarnya ada apa?" tanyaku, bibi hanya diam, diam dan diam. Aku sangat kesal padanya, kesal sekali. Apa dia tidak paham atau bagaimana aku tidak mengerti. Belum sampai rumah aku tak dapat menahan air mataku. Aku tak ingin berfikir buruk sebetulnya. Tetapi melihat tingkah bibiku, membuat aku terus ke arah yang buruk. Aku terus menangis sepanjang perjalannan. Entahlah pikiranku kacau sekarang, sangat kacau.
Setelah sampai dilapangan samping rumah. Rasanya aku sudah sangat lemah, kakiku sulit untuk tetap berdiri. Aku belum bisa menangis, tetapi serasa ada yang mencekik leherku. Aku amat sangat lemah sekarang. Aku takbisa berbuat apa-apa. Mataku tertuju pada sebuah tenda berwarna biru didepan rumah. Saat itu aku rasa benar benar hancur. Bayangkan baru kemarin kalian baru bersenang-senang dengan orang yang kalian sayang, dan setelah itu dia meninggalkan mu. Dan kamu mengetahui ternyata saat itulah terakhir kamu dapat memandangnya, dapat merasakan kasih sayangnya.
Aku tak dapat berkata apa-apa lagi sekarang. Entahlah kemana bibi ku pergi setelah kami sampai. Entahlah bagai mana debu mengotoriku, entahlah langit biru atau awan mendung. Aku tak peduli, kehidupanku berubah ke arah lain saat ini. Aku hanya bisa menangis dan memanggil nama Mamahku. Aku menangis sekeras yang aku bisa. Air mata aku keliarkan, tapeduli akan habis diganti darah. Aku sungguh tapeduli, sebenarnya aku ingin lari dan berhambur ke arah Mamah tapi kakiku tak singkron dengan hatiku. Aku kaku aku hanya bisa bersujud meratapi nasib atau entahlah. Aku tak percaya takdir tuham bisa seperti ini padaku. Saat itu aku benar-benar marah pada Allah. Kenapa Allah mengambil Mamahku dengan begitu mudah, apa salahnya, beliau amat sangat taqwa, amat sangat patuh terhadap Allah.
Aku seperti kehilangan kesadaran saat itu. Ada yang menggendongku masuk kerumah, saat itu aku tidak tahu siapa orangnya. Aku masih menangis.
"Mamahhhhhhhh" Teriakku ketika melihat tubuhnya terbujur kaku di atas ranjang. "Mamah" hanya sebatas kata itu yang mampu aku ucapkan. Semua orang menatap aku dengan prihatin. Semua yang disini menangis, aku melihat kakak-kakak ku menagis juga bapa, aku semakin hancur. Mamah kenapa dia meninggalkan aku, mana janjinya menunggu aku besar, mana janji akan menyayangiku selamanya. Apakah itu hanya ucapan, kata yang tak bermakna ka?, atau apa?. Ya Tuhan aku benci ini. Saat itu aku sungguh tak percaya tak akan bertemu mamah, tak akan makan masakan mamah. Ini adalah hari terakhir aku melihat wajahnya secara langsung.
Semua orang disana menguatkan ku, kakak kakaku, bapa, saudara saudara,teman tetangga. Keluarga ku menguatkan ku, padahal aku tau apa yang mereka rasakan tidak lebih baik dari pada aku. Aku terus menangis, karena aku tak tahu harus mengekspresikan hal ini dengan apa lagi. Mereka yang menasihati aku semua percuma, tidak ada yang mengena karena hanya aku, Kakak-kakak, dan bapa yang tahu rasanya, mereka tidak akan sepenuhnya paham.
Setelah perginya Mamah, Bapaklah yang sekarang mengambil alih semuanya. Sekarang aku tinggal bersama Bapak, dan Kakak perempuan ku, Nia namanya. Sedangkan dua kakak laki-laki ku tinggal di bekasi, mereka sudah mempunyai keluarga sendiri disana. Aku harus terbiasa dengan keadaan saat ini. Aku bersyukur masih mempunyai bapa yang amat sangat menyayangi kami. Jujur saat ada bapak aku tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Aku merasa mungkin karena aku anak terakhir, aku sangat dimanja. Bapak selalu menuriti apa yang aku inginkan, tidak pernah marah. Pokoknya walau dulu mamah sakit bapak tidak pernah beralih ke hal apapun. Bapak adalah sosok ayah yang sangat sempurna menurutku. Beliau mendidik anaknya dengan cara yang berbeda. Merencanakan masa depan anaknya. Bapak adalah sosok yang sangat aku idolakan.
“Iya ini juga, mamah bukan bangunin dari tadi” balasku, karena sebenarnya aku merasa tidak ada yang membangunganku. Aku benci hari Senin selalu gini inikan hari pertama masuk sekolah masa telat. “Mamah siapa yang mau anter?” “Bapa yang mau anter, sana mandi buruan” Mamah teriak dari dapur. Aku buru-buru jalan ke kamar mandi, dan diluar aku melihat nenek ku sudah asik dengan bahan-bahan masakannya. Ya dirumah ini aku tinggal bersama Mamah, Bapa , dan Nenek dari Mamah. Nenek ku memang sudah sangat tua umurnya mungkin hampir menginjak sekitar delapan puluh lima tahun. Tapi beliau masih sehat untuk ukuran orang setua itu. Oke back to me. Aku sangat kesal pagi ini karena hari pertama masuk dan ada ancaman aku akan telat, untung bapa mau mengantarku jadi aku tidak telat. Ya sesampainya aku disekolah baruku, aku agak kaget kenapa postur tubuh mereka sangat tinggi, sedangkan tinggi badan ku mungkin hanya dibawah bahu mereka. Aku agak takut masa iya aku akan jadi orang terpendek disini. Saat itu ada salah satu dari murid yang melihat ke arahku aku menunduk kerena malu. Aku masih dihalaman depan saat itu dan aku dengan percaya dirinya meminta Bapak untuk tidak menemami aku hari pertama ini. Alhasil aku merasa malu sekarang karena aku belum mangenal siapapun disini. Terlebih ada yang memandanngi ku
sekarang, sepertinya dia kaka kelas. Dan baiklah aku mulai deg-degan rasanya kakak-kakak perempuan itu sepertinya berjalan kearahku. Semakin dekat kakak kelas itu, keringat campur hawa dingin dan panas rasanya menyelimuti aku saat ini. Aku tadinya mau lari kalau saja kakak itu tidak keburu sampai di depanku. Aku hanya menunduk saking malunya, dari hawa-hawa , yang kucium sepertinya dia akan mengajukan sebuah pertanyaan, karena mungkin wajahku asing baginya. Baiklah Sekarang aku akan bersiap untuk pertanyaannya. “Ade?” baiklah panggilannya sukses membuatku menatap ke arahnya. “Iya” Itu adalah satu-satunya kata yang mampu aku ucapkan saat ini, mengingat kondisi jantungku yang terus berpacu cepat. “Ade sedang apa?” itu pertanyaan kedua dari kakak itu. “Saya itu ka mau masuk sekolah Kak” Aku gugup sekali jujur. “Saya murid baru kak”
“ohhh” dia ber ohh, entahlah mengapa dia ber oh, padahal akku rasa dia sudah tau sejak awal kalau dia tau aku murid baru disekolah ini. “Pantesankeliatan bingung” lanjutnya.
“ Iya ka saya bingung, ga ada yang nganter juga” jawabku, lalu “Maaf, kakak boleh bantu saya?, saya belum tau dimana kelas saya” kataku , sebenarya aku agak malu dan ragu minta bantuan karena tentu kami baru saja kenal. “Kakak boleh tau ade kelas berapa?” “ Saya kelas IIB ka"
"ohh, ade kelas dua, kalau kelas dua itu jam sepuluh nanti baru masuk” kata kakak itu, aku kaget kenapa bapak gabilang. Masa iya aku harus menunggu selama tiga jam, mana aku belum kenal siapa-siapa disini.”Ade kalau mau tunggu lama, apa mau ikut upacara? Sebentar lagi upacara , kakak mau masuk dulu ya” kakak itu langsung lari begitu saja kedalam padahal aku belum menjawabnya. Yasudah berhubung aku malas berjalan kembali kerumah, akhirnya aku menunggu di salah satu warung depan sekolah. Aku membeli beberapa jajannan, setiap ada ibu-ibu yang menunggu anaknya mereka pasti mengajukan pertanyaan tidak terkecuali ibu warung itu. Saking banyaknya pertanyaan aku sampai tidak ingat, intinya banyak pertanyaan yang biasa mungkin, tapi karena aku orang baru aku agak canggung ditanya –tanya . Menghabiskan tiga jam tentu bukan waktu yang singkat. Aku menunggu sambil membaca beberapa komik yang memang sengaja aku bawa dari rumah, karena takut nanti dikelas tidak ada yang mangjakku bermain, jadi dari pada malu aku baca komik. Oke singkat cerita waktu tiga jam menunggu hampir habis. Kata ibu warung sebentar lagi kakak kelas ku akan istirahat dan aku sebentar lagi masuk. Dan tiba tiba aku melihat orang yang sepertinya aku kenal, aku berusaha ingat ingat namanya. Ya dia ketty salah satu teman kecilku. Aku langsung saja menghampirinya , walau agak sedikit malu dan ragu takut dia tidak mengenaliku, karena sudah kurang lebih tiga tahun kita tidak bertemu. Aku langsung berlari ke arahnya
“Ketty?” Aku tepuk bahunya saat dia akan masuk kedalam sekolah. Merasa ada yang menepuk dan memanggilnya dia membalikan badannya ke arahku. “Siapa?” Dia mamasang ekspresi polosnya. Ya wajar kalau dia tidak manengenali aku , seperti yang aku katakana di awal kita tidak bertemu cukup lama.” Ohh Bi Reni” Ya seperti itulah panggilan dia kepadaku, karena menurut garis keturan. Dikeluarga kami, hal itu memang masih diharuskan . Ngomong-ngomong aku senang sekali akhirnya Ketty mengenaliku. Jadi aku bisa mempunyai satu orang yang aku kenal. “Heeh,Ket”kataku kegirangan”Ketty Kita sekelaskan?” tanyaku antusias. Ketty pun menjawab dengan aggukan. Aku sangat senang saat itu, kerana berarti aku tidak akan bengong sendirian dikelas karena tidak ada yang aku kenal. Ekspresi ketty saat itu cukup membuatku senang karena sepertinya dia senang juga bertemu denagnku.
"Ketty, kelasnya dimana? " aku begitu antusias tiba tiba"ayo atuh kekelas"
"Kelasnya di sebelah sana" ketty menunjuk salah satu sudut sebelah selatan. Aku sangat senang akhirnya aku dapat masuk kelas dan tidak terus menunggu karena datang terlalu awal. Aku langsung mengikuti kemana ketty pergi, dia masuk ke dalam sekolah, aku agak deg-degan saat memasuki lapangan SD baruku. Oh iya dulu waktu aku pertama kali masuk sekolah SD N 2 Wanareja belum ada gedung yang tingkat. Barulah setelah aku menginjak kelas lima, mulai ada pembangunan gedung tingkat.
Setelah kakiku menginjak kelas, baru saat itu aku merasa sangat gugup, entahlah keringat mulai membasahi lagi. Kesal, padahal aku kira aku akan berani menghadapi orang orang baru lagi. Tapi semoga hari ini berjalan baik. Setelah aku memasuki kelas semua mata tertuju padaku. Ketty langsung mangajakku duduk di samping nya. Aku hanya diam tidak berani menatap mereka semua, tetapi aku masih bisa mendengar suara-suara berbisik bisik di belakang sana. "Eh eta apa budak anyarna? " sepetinya suara laki laki, yang artinya "eh itu apa anak barunya" disini memang mayoritas orang orang nya berbicara bahasa sunda. Walaupun kami jawa tengah yang seharusnya berbahasa jawa, aku juga tidak tahu mungkin karena kami termasuk daerah perbatasan atau entah lah.
Perasaanku sedang campur aduk sekarang, aku rasa menunggu bel masuk rasanya sangat lama, untung ada ketty disini walau dia diam saja, karena dia sedang menulis, entah lah aku juga tidak tahu dia sedang mencatat apa.
Akhirnya bel masukpun berbunyi. Aku masih agak gugup pasti nanti ada perkenalan diriku. Dan sepertinya itu hal yang benar karena saat seorang guru, yang ku ketahui dari ketty bahwa guru itu bernama ibu Tri Astuti, yaitu wali kelas kami.
"Bagai mana liburannya?" pertanyaan pembuka beliau memberikan salam. Mananggapi pertanyaan gurunya mereka langsung menjawab dengan bersamaan, tetapi sama sekali tidak kompak. Jawaban mereka banyak yang berbeda sehingga sekarang kelas baruku ini benar-benar bising. Saat satu persatu dari mereka mulai bungkam, mata guru itu tertuju ladaku. Saat itupun aku tau saat nya perkenalan diriku akan segera tiba. Ya benar saja beliau menyuruhku untuk maju. Aku isahakan sekali agar aku tetap tersenyum, akan tetapi air muka ku tak dapat membohongi seisi kelas. Aku terlihat gugup, mungkin amat sangat gugup.
"Gugup ya sayang?" ditanya seperti itu aku sebenernya agak canggung. Aku hanya menjawab pertanyaannya hanya dengan mengangguk sambil di usahkan untuk tersenyum. "Baiklah sekarang kenalkan diri kamu" lanjutnya setelah aku sampai di depan kelas. Aku berusaha mengatur napas agar senormal mungkin
"Assalamualaikum" salam pembukaku, karena aku seorang muslim. Mareka menjawab salamku dengan serempak kali ini." Nama saya Reni Oktaviani, saya murid pindahan dari SDN Mangunjaya 01, di Bekasi" lanjutku menatap seisi kelas. Mereka semua mengangguk, dan untung nya tidak ada pertanyaan lanjutan buatku, karena ibu Tri bilang kalau mau tanya nanti sewaktu istirahat. Setidaknya aku bisa bernafas lega sebentar sampai istirahat. Hari ini juga kami tidak diberi banyak tugas, karena ini hari pertama masuk. Kami hanya di beri tugas menceritakan pengalaman kami. Setelahnya, hari ini aku banyak mendapat teman baru, dulu pertama kali yang aku kenal selain Ketty, juga ada Bunga, Diki, Gilang, Dina, Novia dan aku lupa siapa saja yang dulu aku kenal pertama kalinnya. Tapi sungguh aku rasa sekolah disini bukan hal yang buruk untuk saat ini. Dan semoga kedepannya juga.
Ya seperti itulah kisah hari pertama aku masuk sekolah SD baru ku. Maaf aku tidak menceritakan awal aku masuk SD atau TK, karena sungguh itu pengalaman yang hampir sama yang dialami oleh anak lainnya. Seperti diantar orang tua saat lendaftaran, atau tidak mau di tinggal mamah karena belum kenal dengan teman-temannya.Dan disini aku hanya akan menceritakan sebagian inti kehidupanku pada tulisan ini.
Selama ini kehidupan ku normal, baik di sekolah atau dirumah. Paling hanya terjadi berbagai masalah sedikit. Contohnya saat aku dimarahi mamah karena uang yang harusnya aku tabung malah aku pakai jajan. Atau seperti bertengkar dengan Anggi, Della, atau Yuni, teman bermainku sejak kecil.
Hingga ada suatu kejadian yang banar-benar manggoncang kami, aku dan keluarga ku. Yaitu kematian Mamah ku.
Aku kelas lima saat itu. Ya Mamah ku memang sakit sejak 2 tahun lalu, Mamah sakit paru-paru. Tetapi penyakitnya sedang berangsur membaik saat ini. Kami semua tidak percaya bahwa hal ini akan terjadi sekarang. Saat itu perasaan kami, aku, bapa, dan ketiga kakak ku amat sangat hancur.
Saat itu tanggal 4 Oktober 2013, saat aku kelas lima SD, mimpi buruk bagi keluarga kami. Aku sebenarnya tidak suka menceritakannya pada siapapun. Aku juga sangat tidak suka apa bila ada yang menanyakan tentang hal ini.
"Reni, ada yang cariin kamu didepan, kamu disuruh pulang" Kata wali kelasku, bapak Rasyanto. Saat itu kami memang sedang masuk siang, karena ada pembangunan gedung baru di SD ku. Aku agak kaget mendengat tiba-tiba aku disuruh pulang. Parasaanku mendadak tidak enak karena tadi pagi sakit mamahku kambuh lagi. Mamah muntah darah tadi waktu Mamah akan solat tahajud. Jadi berbagai prasangka buruk sudah memenuhi kepalaku. Akupun bergegas keluar dan berpamitan kepada wali kelas ku. Di luar sekolah aku melihat bibiku duduk di atas motornya. Aku berlari menghampiri bibi dan langsung saja aku membanjirinya dengan banyak pertanyaan.
"Bibi ada apa? Kenapa aku dijemput "nafasku agak tersengal-sengal. Bibiku tak kunjung menjawab, dan matanyapun agak lebam. Perasaan ku semakin tak enak. Rasangan ada yang mengganjal tenggorokanku. Mataku mulai panas, jantungku berpacu begitu cepat. Aku benci suasana ini, aku benci sekali. "Bibi" kali ini teriakku cukup keras, aku tak peduli itu melanggar kesopanan, aku tak peduli walau banyak orang yang akan memandangi ku.
"Eni" dia memanggil nama panggilan sehari-hari ku. "Mamah sakit, pingin ketemu sama Eni" lanjutnya. Tidak menunggu lama aku langsung naik keatas motor nya. Bibiku masih terdiam, aku tahu dia sedang menahan tangis, aku tahu.
"Bibi ayo jalan, ayo katanya mamah mau ketemu, cepet" kataku sambil mengoncang bahunya. Bibi masih saja diam, aku sangat kesal saat itu. Kalau saja bibiku saat itu masih belum menyalakan motor dan menarik gas, sepertinya, aku sudah teriak dan marah. Ini bukan lagi masalah sepele, ini adalah tentang Mamahku, tentang orang yang melahirkan aku. Rasanya mendengar hal buruk terjadi padanya, aku sangat sedih dan gelisah.
"Bibi sebenarnya ada apa?" tanyaku, bibi hanya diam, diam dan diam. Aku sangat kesal padanya, kesal sekali. Apa dia tidak paham atau bagaimana aku tidak mengerti. Belum sampai rumah aku tak dapat menahan air mataku. Aku tak ingin berfikir buruk sebetulnya. Tetapi melihat tingkah bibiku, membuat aku terus ke arah yang buruk. Aku terus menangis sepanjang perjalannan. Entahlah pikiranku kacau sekarang, sangat kacau.
Setelah sampai dilapangan samping rumah. Rasanya aku sudah sangat lemah, kakiku sulit untuk tetap berdiri. Aku belum bisa menangis, tetapi serasa ada yang mencekik leherku. Aku amat sangat lemah sekarang. Aku takbisa berbuat apa-apa. Mataku tertuju pada sebuah tenda berwarna biru didepan rumah. Saat itu aku rasa benar benar hancur. Bayangkan baru kemarin kalian baru bersenang-senang dengan orang yang kalian sayang, dan setelah itu dia meninggalkan mu. Dan kamu mengetahui ternyata saat itulah terakhir kamu dapat memandangnya, dapat merasakan kasih sayangnya.
Aku tak dapat berkata apa-apa lagi sekarang. Entahlah kemana bibi ku pergi setelah kami sampai. Entahlah bagai mana debu mengotoriku, entahlah langit biru atau awan mendung. Aku tak peduli, kehidupanku berubah ke arah lain saat ini. Aku hanya bisa menangis dan memanggil nama Mamahku. Aku menangis sekeras yang aku bisa. Air mata aku keliarkan, tapeduli akan habis diganti darah. Aku sungguh tapeduli, sebenarnya aku ingin lari dan berhambur ke arah Mamah tapi kakiku tak singkron dengan hatiku. Aku kaku aku hanya bisa bersujud meratapi nasib atau entahlah. Aku tak percaya takdir tuham bisa seperti ini padaku. Saat itu aku benar-benar marah pada Allah. Kenapa Allah mengambil Mamahku dengan begitu mudah, apa salahnya, beliau amat sangat taqwa, amat sangat patuh terhadap Allah.
Aku seperti kehilangan kesadaran saat itu. Ada yang menggendongku masuk kerumah, saat itu aku tidak tahu siapa orangnya. Aku masih menangis.
"Mamahhhhhhhh" Teriakku ketika melihat tubuhnya terbujur kaku di atas ranjang. "Mamah" hanya sebatas kata itu yang mampu aku ucapkan. Semua orang menatap aku dengan prihatin. Semua yang disini menangis, aku melihat kakak-kakak ku menagis juga bapa, aku semakin hancur. Mamah kenapa dia meninggalkan aku, mana janjinya menunggu aku besar, mana janji akan menyayangiku selamanya. Apakah itu hanya ucapan, kata yang tak bermakna ka?, atau apa?. Ya Tuhan aku benci ini. Saat itu aku sungguh tak percaya tak akan bertemu mamah, tak akan makan masakan mamah. Ini adalah hari terakhir aku melihat wajahnya secara langsung.
Semua orang disana menguatkan ku, kakak kakaku, bapa, saudara saudara,teman tetangga. Keluarga ku menguatkan ku, padahal aku tau apa yang mereka rasakan tidak lebih baik dari pada aku. Aku terus menangis, karena aku tak tahu harus mengekspresikan hal ini dengan apa lagi. Mereka yang menasihati aku semua percuma, tidak ada yang mengena karena hanya aku, Kakak-kakak, dan bapa yang tahu rasanya, mereka tidak akan sepenuhnya paham.
Setelah perginya Mamah, Bapaklah yang sekarang mengambil alih semuanya. Sekarang aku tinggal bersama Bapak, dan Kakak perempuan ku, Nia namanya. Sedangkan dua kakak laki-laki ku tinggal di bekasi, mereka sudah mempunyai keluarga sendiri disana. Aku harus terbiasa dengan keadaan saat ini. Aku bersyukur masih mempunyai bapa yang amat sangat menyayangi kami. Jujur saat ada bapak aku tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Aku merasa mungkin karena aku anak terakhir, aku sangat dimanja. Bapak selalu menuriti apa yang aku inginkan, tidak pernah marah. Pokoknya walau dulu mamah sakit bapak tidak pernah beralih ke hal apapun. Bapak adalah sosok ayah yang sangat sempurna menurutku. Beliau mendidik anaknya dengan cara yang berbeda. Merencanakan masa depan anaknya. Bapak adalah sosok yang sangat aku idolakan.
Tahun tahun berlalu aku sudah lulus dari SD. Saat bapak menyuruhku masuk SMPN 1 Wanareja aku hanya menurut, karena aku tahu ketika bapak mengambil keputusan untuk aku pasti sudah di perhitungakan. Aku masuk ke kelas 9c, aku rasa disana aku bisa bersosiali dengan baik. Aku memiliki banyak teman, lebih menyenangkan dari SD.
Kalian tahu saat aku kelas 7 aku kembali kehilangan seseorang, seseorang yang sangat sempurna bagiku. Aku kehilangan Bapakku, bapak meninggal karena penyakit jantungnya. Kalian tahu betapa hancurnya aku saat itu. Aku sangat benci menceritakan hal itu. Setiap kali aku menceritakannya aku akan meresa sedih. Bapak meninggal di RS. Tasik. Saat itu kami merasa benar-benar kehilangan semuanya. Aku telah kehilangan sosok yang paling menyayangi aku didunia. Kalian tahu betapa susahnya beradaptasi akan hal iru dulu. Kalian tahu aku sangat kaget sekarang aku yang biasanya dimanja, harus kelihangan itu. Terlebih sekarang aku menjadi seorang Yatim Piatu.
Setelah Bapak meninggal aku tinggal berdua bersama kakak perempuan ku Nia. Sedangkan seperti yang sudah aku jelas kan kakak laki-lakiku di Bekasi. Dari semua kehilangan yang terjadi aku sangat bersyukur mempunyai sosok kakak perempuan ku. Aku rasa dulu saat Bapak meninggal hidupku akan terlantar. Ternyata tidak. Dia kakak perempuanaku adalah pahlawan bagiku. Jujur aku mendapatkan semua kasih sayang yang tidak dapat aku terima dari orang tuaku, aku dapatlan darinya. Kalian tahu aku tak pernah merasa kekurangan apapu. Aku bangga memilih kakaku, yang bisa membiayai adiknya sekolah, dan juga membiayai kuliahnya. Kakaku sekarang bekerja sambil kuliah, setelah dia lulus, dia menjadi seorang Manager Area untuk salah satu bank BUMN. Aku sangat bangga pada kakaku. Aku bangga memiliki sosoknya.
Kalian tahu, aku merasa bukan yatim piatu yang malang. Aku sungguh tidak merasa kekurangan apapun kecuali kasih sayang orang tua. Ya yang aku butuhkan sekarang hanya kasih sayang yang hangat dari orang tuaku. Aku bersyukur orang-orang disekitarku selalu menguatkanku. Terutama kakak-kakak ku,dan sahabat ku.
Ya aku memiliki 3 orang sahabat. Yulia Fatika Diyanti, Pramestya Adhisti, dan Imelda Valentaenia. Mereka sangat dekat kepadaku, apapun yang tidak bisa aku ceritakan kepada orang lain, akan aku cerita kan pada mereka. Kami bersahabat begitu dekat. Aku, Imel, dan Adis kami sangat menggemari kpop. Yulia dia berbeda, tapi dia sangat bijak pelu kamu tahu.
Aku sangat sedih ketika harus berpisah dengan mereka. Mereka semua memasuki sekolah yang berbeda. Aku di SMK, mereka di SMA, semua berbeda hanya. Imel dan Yulia satu sekolah. Walaupun iya kami berpisah persahabatan kami tetap terjalin. Kami membentuk sebuah grup bernama PinkPong official group. Jadi kami tak memiliki banyak masalah dengan perpisahan ini. Smp adalah salah satu hal yang paling membahagiakan bagi hidupku. Aku bisa dapat banyak teman, Bella,Diyas, Selvi. Mereka juga sahabat baikku. Selalu membantu kala aku sedih. Aku senang berteman dengan mereka juga. Aku tidak akan melupakan teman-teman smp ku. Awalnya berat meninggalkan smp, teman-teman lain. Tapi perpisahan harus terjadikan?, kita harus segera pindah kesekolah yang baru. Mungkin disana tempat yang baru, sekolah yang baru aku akan mendapatkan suasana yang lebih baik. Tetapi bukan berarti aku akan melupakan teman lamaku. Awalnya pasti susah tapi hidup harus berjalankan?.
Setelah lulus dari SMP, kakak meminta saya sekolah di SMKN 1 wanareja. Alasannya karena kaka saya tidak mau ada resiko jika saya sekolah jauh. Aku menurut saja, karena dialah orang tuaku sekarang. Aku bingung sebenarnya untuk memilih sebuah jurusan. Entahlah saat melihat brosur tentang smk, aku sangat tertarik dengan jurusan mesin. Aku mendiskusikan nya dengan kakak-kakakku. Mereka mengintakan bahwa dijurusan mesin akan jerang anak perempuan. Aku tahu mereka takut aku tidak nyaman. Aku terima semua konsekuensinya.
Pendaftaran secara online sudah aku lakukan. Pengumuman dan aku di terima. Lagi-lagi semua proses aku jalankan bersama kety. Memang diantara teman masa kecilku yaitu Della, Yuni, Anggi,dan ketty, dialah yang paling sering bersamaku. Terlebih Della sekarang sudah pindah. Baiklah kita kembali. Setelah prosesi pendaftaran selesai, aku menjalani PDPK. Kaliaan harus tahu PDPK, atau pelatihan kepemimpinan, bukan hal yang mudah fisik kami di uji, mental kami ditempa. Tak apa itu perjuangan yang tidak seberapa untuk meraih kesuksesan.
Ternyata benar saja dikelas kami hanya ada empat perempuan,Mella, Resty, Vera. Kamu tahu aku sangat bangga masuk jurusan ini. Kami begitu solid, walaupun di smk ini hanya ada tiga kelas dari semua angkatan tapi kami kuat. Itu semua juga karena kepala kaprodi kami. Bapak Mubarok, baliau sangat memperjuangkan jurusannya. Membuat sekolah kami jadi terasa menyenangkan. Dijurusan kami memiliki banyak program salah satunya Literasi dan baca Alquran. Dan seperti hari ini, kami kelas 1,2, dan 3 mempunyai acara pelatihan kepemimpinan dan wira usaha. Sungguh acara yang menyenangkan. Disana kami diberi tugas membuat cerita tentang hidup kami. Jadi disinilah aku sekarang, berada di kamar menghadap laptop ku,dan mengetik kisah hidupku.
Cerita ini begitu singkat. Tapi ini lah sedikit tentang perjalanan hidupku. Berisi kehilangan,kesenangan, persahabatan. Tapi syukurlah aku tidak memiliki musuh. Aku bahagia dengan kehidupanku saat ini. Bersama kakak ku sungguh hal paling membahagiakan. Walau aku yatim piatu tetapi aku selalu berusaha bahagia. Ketika aku sedih aku akan hibur diriku sendiri. Katika aku ingat orang tua aku akan mendoakan. Aku tidak pernah melupakan ajaran orang tuaku, tentang apapun. Tentang kasih sayang, tentang agama dan semuanya. Hal yang paling aku syukuri saat ini adalah ketika aku masih memiliki kakak ku, sahabat ku, dan semua kasih sayang Tuha. Aku sangat bersyukur padanya, atas semua yang terjadi. Percayalah dibalik segala sesuatu pasti Tuhan akan berikan hikmahnya. Semua tidak akan sia-sia, Manjada wa jadda, siapa yang bersungguh sungguh dia akan berhasil. Itu kata Ahmad Faudi, dalam bukunya Negri Lima Menara.
Kalian tahu saat aku kelas 7 aku kembali kehilangan seseorang, seseorang yang sangat sempurna bagiku. Aku kehilangan Bapakku, bapak meninggal karena penyakit jantungnya. Kalian tahu betapa hancurnya aku saat itu. Aku sangat benci menceritakan hal itu. Setiap kali aku menceritakannya aku akan meresa sedih. Bapak meninggal di RS. Tasik. Saat itu kami merasa benar-benar kehilangan semuanya. Aku telah kehilangan sosok yang paling menyayangi aku didunia. Kalian tahu betapa susahnya beradaptasi akan hal iru dulu. Kalian tahu aku sangat kaget sekarang aku yang biasanya dimanja, harus kelihangan itu. Terlebih sekarang aku menjadi seorang Yatim Piatu.
Setelah Bapak meninggal aku tinggal berdua bersama kakak perempuan ku Nia. Sedangkan seperti yang sudah aku jelas kan kakak laki-lakiku di Bekasi. Dari semua kehilangan yang terjadi aku sangat bersyukur mempunyai sosok kakak perempuan ku. Aku rasa dulu saat Bapak meninggal hidupku akan terlantar. Ternyata tidak. Dia kakak perempuanaku adalah pahlawan bagiku. Jujur aku mendapatkan semua kasih sayang yang tidak dapat aku terima dari orang tuaku, aku dapatlan darinya. Kalian tahu aku tak pernah merasa kekurangan apapu. Aku bangga memilih kakaku, yang bisa membiayai adiknya sekolah, dan juga membiayai kuliahnya. Kakaku sekarang bekerja sambil kuliah, setelah dia lulus, dia menjadi seorang Manager Area untuk salah satu bank BUMN. Aku sangat bangga pada kakaku. Aku bangga memiliki sosoknya.
Kalian tahu, aku merasa bukan yatim piatu yang malang. Aku sungguh tidak merasa kekurangan apapun kecuali kasih sayang orang tua. Ya yang aku butuhkan sekarang hanya kasih sayang yang hangat dari orang tuaku. Aku bersyukur orang-orang disekitarku selalu menguatkanku. Terutama kakak-kakak ku,dan sahabat ku.
Ya aku memiliki 3 orang sahabat. Yulia Fatika Diyanti, Pramestya Adhisti, dan Imelda Valentaenia. Mereka sangat dekat kepadaku, apapun yang tidak bisa aku ceritakan kepada orang lain, akan aku cerita kan pada mereka. Kami bersahabat begitu dekat. Aku, Imel, dan Adis kami sangat menggemari kpop. Yulia dia berbeda, tapi dia sangat bijak pelu kamu tahu.
Aku sangat sedih ketika harus berpisah dengan mereka. Mereka semua memasuki sekolah yang berbeda. Aku di SMK, mereka di SMA, semua berbeda hanya. Imel dan Yulia satu sekolah. Walaupun iya kami berpisah persahabatan kami tetap terjalin. Kami membentuk sebuah grup bernama PinkPong official group. Jadi kami tak memiliki banyak masalah dengan perpisahan ini. Smp adalah salah satu hal yang paling membahagiakan bagi hidupku. Aku bisa dapat banyak teman, Bella,Diyas, Selvi. Mereka juga sahabat baikku. Selalu membantu kala aku sedih. Aku senang berteman dengan mereka juga. Aku tidak akan melupakan teman-teman smp ku. Awalnya berat meninggalkan smp, teman-teman lain. Tapi perpisahan harus terjadikan?, kita harus segera pindah kesekolah yang baru. Mungkin disana tempat yang baru, sekolah yang baru aku akan mendapatkan suasana yang lebih baik. Tetapi bukan berarti aku akan melupakan teman lamaku. Awalnya pasti susah tapi hidup harus berjalankan?.
Setelah lulus dari SMP, kakak meminta saya sekolah di SMKN 1 wanareja. Alasannya karena kaka saya tidak mau ada resiko jika saya sekolah jauh. Aku menurut saja, karena dialah orang tuaku sekarang. Aku bingung sebenarnya untuk memilih sebuah jurusan. Entahlah saat melihat brosur tentang smk, aku sangat tertarik dengan jurusan mesin. Aku mendiskusikan nya dengan kakak-kakakku. Mereka mengintakan bahwa dijurusan mesin akan jerang anak perempuan. Aku tahu mereka takut aku tidak nyaman. Aku terima semua konsekuensinya.
Pendaftaran secara online sudah aku lakukan. Pengumuman dan aku di terima. Lagi-lagi semua proses aku jalankan bersama kety. Memang diantara teman masa kecilku yaitu Della, Yuni, Anggi,dan ketty, dialah yang paling sering bersamaku. Terlebih Della sekarang sudah pindah. Baiklah kita kembali. Setelah prosesi pendaftaran selesai, aku menjalani PDPK. Kaliaan harus tahu PDPK, atau pelatihan kepemimpinan, bukan hal yang mudah fisik kami di uji, mental kami ditempa. Tak apa itu perjuangan yang tidak seberapa untuk meraih kesuksesan.
Ternyata benar saja dikelas kami hanya ada empat perempuan,Mella, Resty, Vera. Kamu tahu aku sangat bangga masuk jurusan ini. Kami begitu solid, walaupun di smk ini hanya ada tiga kelas dari semua angkatan tapi kami kuat. Itu semua juga karena kepala kaprodi kami. Bapak Mubarok, baliau sangat memperjuangkan jurusannya. Membuat sekolah kami jadi terasa menyenangkan. Dijurusan kami memiliki banyak program salah satunya Literasi dan baca Alquran. Dan seperti hari ini, kami kelas 1,2, dan 3 mempunyai acara pelatihan kepemimpinan dan wira usaha. Sungguh acara yang menyenangkan. Disana kami diberi tugas membuat cerita tentang hidup kami. Jadi disinilah aku sekarang, berada di kamar menghadap laptop ku,dan mengetik kisah hidupku.
Cerita ini begitu singkat. Tapi ini lah sedikit tentang perjalanan hidupku. Berisi kehilangan,kesenangan, persahabatan. Tapi syukurlah aku tidak memiliki musuh. Aku bahagia dengan kehidupanku saat ini. Bersama kakak ku sungguh hal paling membahagiakan. Walau aku yatim piatu tetapi aku selalu berusaha bahagia. Ketika aku sedih aku akan hibur diriku sendiri. Katika aku ingat orang tua aku akan mendoakan. Aku tidak pernah melupakan ajaran orang tuaku, tentang apapun. Tentang kasih sayang, tentang agama dan semuanya. Hal yang paling aku syukuri saat ini adalah ketika aku masih memiliki kakak ku, sahabat ku, dan semua kasih sayang Tuha. Aku sangat bersyukur padanya, atas semua yang terjadi. Percayalah dibalik segala sesuatu pasti Tuhan akan berikan hikmahnya. Semua tidak akan sia-sia, Manjada wa jadda, siapa yang bersungguh sungguh dia akan berhasil. Itu kata Ahmad Faudi, dalam bukunya Negri Lima Menara.
Ini adalah foto foto ku yang sekarang, i am not special but i am limited adition wkwkwk



Keren anjay
BalasHapusBagus, aku suka
BalasHapusKejar terus karirmu sobat,
BalasHapusOkek broo
HapusMaksih yang udh baca ya
BalasHapusSuka ren😇 ga semudah ITU ya buat cerpen juga. Seenggaknya jadi penulis yg junior dulu hehe v;
BalasHapusTerimakasih, iya
HapusSedih eyyy, baru ya , terusin dahhh,
BalasHapusSedih eyyy, baru ya , terusin dahhh,
BalasHapusLuar biasaa!! Keren,ga nyangka dong anak kecil yg dulu suka main bareng sekarang udah gede dan jago rangkai kata2. Semangat terus! Perbanyak doa & ikhtiar,insyaAllah semua angan dan cita akan tercapai. Aamiin
BalasHapusTerimakasih
HapusSedih bacana, sing sabar banyak doa kangge mamah bpk disurga, reni kuat, tth yakin reni bisa sukses, tth dungakeun reni sing sukses😇
BalasHapusSemangat terus ren, websitenya udah smooth warnanya, dan isinya juga sudah sangat inspirasi
BalasHapus